Pencitraan Diri, Narsis atau Eksis?

Pencitraan Diri, Narsis atau Eksis?

AJAR Hospitality

Pencitraan Diri, Narsis atau Eksis?

AJAR.id – Hello Ajarian! Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya ketika mewawancarai seorang calon sekretaris. Calon sekretaris tersebut datang terlambat 20 menit karena situasi di sekitar Jalan Sudirman macet. Begitu dia masuk ke kantor saya, dia langsung mengatakan "maaf, saya terlambat".

Kata-kata tersebut diucapnya berulang kali, seakan-akan dia melakukan kesalahan yang besar dan membuat saya merasa heran. Sesudah wawancara selesai, saya ceritakan hal ini ke pewawancara sebelum saya. Ternyata, pewawancara sebelumnya mengatakan ke calon sekretaris tersebut "pastikan bahwa Kamu datang tepat waktu ya, karena Ibu Ade (saya) orangnya sangat punctual".

Jika kita mendengar kata "prikitiew...", kita langsung mengingat Sule. Sama halnya dengan kata "maknyuss..." yang diidentikkan dengan Bondan Winarno.

Hal ini bukan berarti saya mau mengatakan bahwa saya sudah sepopuler Sule atau Bondan Winarno. Saya hanya mau menunjukkan bahwa ternyata setiap orang itu harus memiliki personal branding, kalau mau mudah diingat.

Citra personal merupakan proses, di mana seseorang dan kariernya ditandai sebagai merek. Jika sebelumnya disebutkan bahwa teknik membantu diri dalam manajemen adalah dengan memperbaiki diri, konsep citra personal menyatakan bahwa sukses datang dari kemasan diri....

Kamu mengakses konten premium, untuk memberikan pengalaman yang lebih baik kamu dapat membaca semua konten premium kami GRATIS hanya melalui Apps.
Download Sekarang!!

Recommended Posts

AJAR in The News