Corona Virus, Beralih dari Mode Belajar Konvensional ke Virtual Training

Corona Virus, Beralih dari Mode Belajar Konvensional ke Virtual Training

Ikin

Corona Virus, Beralih dari Mode Belajar Konvensional ke Virtual Training

AJAR.id - seperti kita ketahui bahwa dampak dari penyebaran Virus Corona menyebabkan berbagai negara melakukan Lock Down dimana semua kegiatan dihentikan, termasuk kegiatan belajar dan bisnis. Lalu, apa yang mereka lakukan agar proses belajar mengajar masih tetap bisa berjalan? 

Untuk menahan laju penyebaran virus, negara-negara di Timur Tengah dan Arab Saudi memutuskan untuk menutup sekolah dan melarang warganya untuk berkunjung ketempat-tempat keramaian. Negara-negara Middle East dan Arab Saudi memahami bahwa pendidikan tidak boleh berhenti dan tetap harus berjalan seperti biasa. Akhirnya, mereka mewajibkan semua institusi pendidikan untuk menggunakan mode belajar virtual.  

Virtual Training merupakan proses belajar jarak jauh dengan menggunakan Video Conference dimana peserta bisa belajar dari mana saja selama mereka memiliki bandwith internet yang cukup dan Laptop/PC untuk mengikuti sesi belajar mengajar.

Idealnya, peserta setidaknya memiliki internet dengan kecepatan 350 Kbp/s, sehingga ketika Trainer menampilkan materi belajar kedalam layar dan ketika mengajak diskusi untuk membahas topik-topik dapat berjalan dengan lancar jaya. Untuk mengetahui kecepatan internet, kamu bisa menggunakan tools ini: speedtest.net

Materi yang disajikan dengan mode Virtual Training sebaiknya membahas topik secara spesifik selama 1 hingga maksimum 1.5 jam saja per sesi belajar. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa peserta mampu berkonsentrasi dalam proses belajar mengajar.  

Keuntungan mode belajar Virtual ini adalah menghemat biaya operasional pendidikan dan pelatihan, menjaring segmentasi peserta dari kota-kota yang berbeda dan memiliki fungsi yang sama dengan traditional class room.

Umumnya, proses dalam penggunaan teknologi-nya  pun sangat simple bagi peserta dan trainer. Jika kamu pernah bekerja di hotel global dengan posisi managerial, pastinya kamu sangat familiar dengan yang namanya Webex, Go To Meeting atau Zoom. Nah, itu semua adalah provider penyedia platform Virtual Training yang sudah lama digunakan oleh hotel-hotel berbintang sejak tahun 2007an silam. 

Pertanyaannya: sebagai seorang Trainer, bagaimana caranya agar Virtual Training kamu dapat berjalan sesuai harapan? 

  1. Buatlah topik yang spesifik berikut dengan learning outcome yang ingin kamu raih 
  2. Berikan undangan kepada peserta minimum seminggu sebelum sesi pelatihan dimulai 
  3. Ingatkan peserta 1 jam dan 15 menit sebelum sesi pelatihan agar mereka dapat mengikuti sesi dari awal 
  4. Untuk menunjang kualitas visual, siapkan Web Cam dengan kualitas minimal HD 960 P dengan pencahayaan yang cukup. Selain itu, gunakan Headset untuk menunjang kualitas suara yang jernih sehingga mudah diikuti dan didengarkan oleh peserta. 
  5. Pilih provider platform belajar yang tepat (ciri-cirinya adalah mereka menempatkan server di 7 benua) yang bertujuan untuk menunjang kualitas latensi audio dan visual. Sehingga para peserta dapat mendapatkan kualitas pengalaman belajar yang baik.   
  6. Sampaikan materi dengan urutan: 1) Pembukaan 2) Konten dengan struktur tanya jawab disetiap sub-topik dan 3) Kesimpulan. Hindari menyampaikan materi secara bertele-tele dan melebar dari topik utama, fokuslah pada outcome yang ingin disampaikan dan jalin komunikasi yang baik dengan peserta pelatihan. 
  7. Pacu konsentrasi belajar dengan banyak memberikan pertanyaan kepada peserta
  8. Setelah sesi pelatihan selesai, berikan link rekaman agar peserta dapat memutar rekaman dan belajar kembali topik yang telah disampaikan. 

Perlu diingat bahwa Virtual Training adalah satu dari banyak mode belajar yang dapat kamu pilih, terutama bagi kamu yang mengadopsi Competency Based Training. Jika kamu akan mengkombinasikan semua mode belajar, maka umumnya disebut sebagai Hybrid Learning.  

Virtual Training tepat digunakan untuk proses transfer knowledge, soft skill atau sangat cocok untuk menjalankan kelas bahasa. Namun, Virtual Training tidak pas digunakan dalam proses belajar untuk topik-topik belajar yang bersifat tekhnis, misalnya cara memasak Tempe Mendoan, karena peserta harus praktek tekhnik yang diajarkan. 

Untuk kalangan dari dunia edukasi, Virtual Training telah banyak diterapkan untuk menunjang program belajar jarak jauh untuk program pendidikan S1 dan S2. Sedangkan untuk kalangan korporasi, Virtual Training banyak digunakan untuk menunjang pelatihan managerial, leadership dan soft skill lainnya. Umumnya, korporasi menggunakan mode Virtual Training yang dikombinasikan dengan Self Paced mode yang bertujuan untuk efektifitas dan efisiensi program pengembangan karyawan.   

Jadi gimana? Sudah siap beralih dari Traditional Class Room kedalam mode Virtual? 

Salam Jempol!

By Ikin Solikin  

Recommended Posts

AJAR in The News