Corona, Apakah Membuat Kita Merana?

Corona, Apakah Membuat Kita Merana?

Ikin

Corona, Apakah Membuat Kita Merana?

AJAR.id - Seperti kita ketahui bersama, korban COVID-19 telah merenggut korban jiwa nyaris 10.000 jiwa di seluruh dunia. Sebanyak 12.703 penerbangan dibatalkan yang berpotensi merugikan AP I sebesar Rp 208 Miliar dan membuat industri pariwisata dan perhotelan tanah air juga kian merana.

Jika kedua industri penerbangan dan pariwisata sudah terganggu, maka dampaknya akan sangat luas sekali terhadap industri penyangga seperti transportasi lokal, UKM, taman rekreasi, MICE, spa, dan lain-lainnya. Situasi ini sangat sulit bagi semua kalangan baik pemerintah, pebisnis, karyawan, dan mereka yang mengantungkan hidup dari upayanya sendiri. 

Itu artinya kesehatan merupakan sebuah berkah dari Yang Maha Kuasa yang sangat mahal sekali harganya dan tidak bisa dinilai dengan rupiah.

Untuk menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini, apakah kita akan merenung dan mengeluh tanpa batas? Apa hasilnya? 

Jika kita terbiasa mengasah keterampilan berpikir dari Kanan ke Kiri dan Dibalik dari Kiri ke Kanan, tentunya kita akan menjadi pribadi yang "optimis" dengan mengedepankan sikap kehati-hatian dalam bertindak dan mengukur risiko atas apa yang akan kita lakukan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk meneruskan situasi ekonomi tanpa kepastian seperti sekarang ini?

Pertama, kita tidak bisa menggantungkan diri kita pada sosok manusia manapun karena kita merupakan sebuah bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Mintalah kepada-Nya apa yang seharusnya kita lakukan, niscaya kita diberikan jalan terbaik. 

Kedua, menjaga kesehatan diri dan lingkungan di tempat kita sangat penting untuk keselamatan kita bersama. Caranya sudah banyak dipublikasikan di sini https://www.covid19.go.id/

Ketiga, Buat Survival Emergency Plan & Execution 

Namanya juga situasi emergency, pola pikir yang harus sama-sama kita bangun adalah bagaimana kita bisa berpikir kreatif dan bersama-sama dalam menghadapi situasi yang terjadi layaknya Gunung Merapi yang sedang mengamuk. Contohnya kami ulas dalam studi kasus berikut:

1st Case Study from SMK 1 Singaraja (Education Perspective) 

Kami terenyuh dan sangat tersentuh melihat kobaran semangat bapak dan ibu guru kita dalam menjalankan proses belajar mengajar jarak jauh dengan sarana ala kadarnya, namun bapak dan ibu guru kita sangat kreatif. Apa yang telah mereka lakukan? 

Salah satu guru SMK 1 Singaraja, Ibu Ita yang juga pernah mengikuti program Hybrid Teacher Development Programyang diselenggarakan tahun lalu oleh Kementerian Pariwisata di Bali telah betul-betul menerapkan struktur belajar yang pernah kami berikan, walaupun dengan cara manual dan sederhana.

Apa yang Ibu Ita lakukan? 

Pendidikan vokasi sarat dengan praktik. Dalam situasi darurat di mana sekolah di-lockdown, Ibu Ita mencari cara proses penyampaian belajar jarak jauh dengan platform WhatsApp.

Lalu, bagaimanakah prosesnya? 

Step 1: Ibu Ita menjelaskan dan mengirimkan materi belajar "How to Polish The Glass" kepada pelajar dalam grup WhatsApp dengan memberikan instruksi bahwa mereka harus membaca materi tentang proses membersihkan gelas dengan teliti. 

Step 2: Pelajar melakukan tugas tersebut di rumah masing-masing dan merekam adegan "How to Polish The Glass" hingga semua proses dilakukan dan dikirimkan ke dalam grup WhatsApp. 

Step 3: Ibu Ita memberikan "Feedback" dari setiap video yang dikirimkan untuk memacu motivasi mereka dalam belajar.

Lalu, Apa hasil dari mode belajar ini?

  • Siswa/siswi terlihat sangat senang dan antusias ketika proses perekaman adegan. Mereka terlihat "fun" dengan baju bebas dan latar belakang di dalam rumah mereka masing-masing. 
  • Anggota keluarga terlibat dalam proses belajar mengajar, yaitu dengan membantu merekam adegan yang diperagakan oleh siswa/i.
  • Walaupun dari sisi perlengkapan praktik tidak sesuai standar hotel, namun setidaknya mereka telah mempelajari bagaimana proses kerja dilakukan sesuai standar kurikulum yang telah ditetapkan. Hal ini sangat wajar karena dalam kondisi keadaan yang darurat. Jika kondisi sudah kembali normal, maka bisa dilakukan praktik ulang.

Jadi, kesimpulannya adalah meskipun memiliki berbagai keterbatasan anggaran pengadaan platform belajar, peralatan, dan juga keterbatasan jarak antara guru dan siswa, Ibu Ita tidak patah semangat untuk terus mendidik generasi kita yang patut kita teladani bersama.

2nd Case Study from AJAR Hospitality (Business Perspective)

Portal AJAR.id adalah portal belajar gratis bagi masyarakat yang bebas iklan, tujuannya adalah supaya masyarakat awam bisa nyaman belajar di bidang ilmu pariwisata dan perhotelan dan masyarakat berminat untuk melanjutkan ke jenjang studi ilmu pariwisata dan perhotelan sehingga kekurangan tenaga profesional bisa ditekan.

Penghasilan inti dari AJAR Hospitality adalah penjualan produk materi belajar digital dan Learning Management System yang berfokus pada industri pariwisata dan perhotelan. Melihat kondisi saat ini, tentu saja bisnis kami juga terdampak dari adanya “Mbak Corona” ini. Banyak di antara kontrak kerja sama kami baik dari dalam dan luar negeri yang sudah kami sepakati tahun lalu ditangguhkan untuk sementara waktu sembari menunggu situasi ekonomi pulih kembali. 

Lalu, apa yang kami lakukan? Apakah kami merintih dan mengeluh? 

Pertama, dengan terpaksa dan sangat berat hati kami harus keluar dari idealisme awal kami yaitu "bebas belajar tanpa iklan" di portal belajar AJAR.id dengan terpaksa kami tangguhkan. Kami sangat paham bahwa kenyamanan belajar para sahabat kami pasti terganggu, karena sejak 3 tahun yang lalu kami tidak suka ada iklan di website kami. Namun, hal itu terpaksa kami lakukan supaya kami tetap terus bisa menulis dan berkarya, yaitu dengan memasang iklan di halaman artikel yang jumlahnya juga kami batasi.

Kedua, mempercepat launching model bisnis B2C dalam beberapa minggu ke depan yang sudah kami persiapkan sejak dua tahun yang lalu. Rencananya, platform baru tersebut akan kami launching di bulan September 2020, namun harus kami speed up! Kenapa? Karena sepanjang pengetahuan kami proses "Macro Economic Recovery" pasca pandemi memerlukan waktu yang belum pasti. Sehingga kalangan pebisnis pun akan wait and see. Bagi kami, waktu sangat berharga dan tidak akan kami sia-siakan. Dengan tetap berusaha keras di inti bisnis, yaitu "Learning Management System" untuk segmen B2B, model B2C dapat menjadi solusi untuk memperlebar segmentasi pasar kami kepada khalayak umum. 

Keempat, Menyesuaikan Haluan Pasar

Sebelum “Mbak Corona” datang, segmentasi pasar B2B kami hanya berfokus pada sektor hospitality, karena kami ingin memiliki produk yang unique tiada tara. Tapi, lagi-lagi itu adalah idealisme yang tidak relevan setelah “Mbak Corona” datang. Dengan sangat terpaksa, kami harus fokus 80% dari semua marketing effort kami kepada industri kesehatan melalui layanan pembuatan konten belajar AJAR Cloud Studio dan AJAR Cloud LMS. Sedangkan, 20% sisanya fokus pada Business to Goverment (B2G) baik dalam dan luar negeri.

Lalu, kenapa harus switch? karena kami belajar untuk "realistis". Setelah situasi pulih, barulah kami akan kembali ke kodrat kami sesuai latar belakang kami, yaitu Hospitality

Jadi, apakah Corona membuat kita merana? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing dalam menyikapi musibah masal ini. Jika kita optimis dan terus berdoa, niscaya kita diberikan jalan terbaik dari-Nya. Sebaliknya, jika kita terus mengeluh dan pesimis, maka musibah seperti ini akan menghambat pikiran kita untuk terus berkarya untuk bangsa. 

Salam Jempol!

By Ikin Solikin 

Recommended Posts

AJAR in The News