Belajar Service Quality dari Sopir Taksi

Belajar Service Quality dari Sopir Taksi

AJAR Hospitality

Belajar Service Quality dari Sopir Taksi

AJAR.id – Hello Ajarian! Pada artikel ini saya akan bercerita sedikit mengenai obrolan saya yang dengan salah seorang sopir taksi bandara di Jogjakarta.

Minggu lalu saya menjemput bude (kakak perempuan ayah saya) di bandara. Saya berangkat dengan menggunakan bus Transjogja dan pulangnya saya terpaksa naik taksi yang sudah disediakan oleh pengelola bandara. Mengapa tidak menggunakan taksi online? Karena beberapa bandara di Indonesia melarang taksi online untuk mengambil order di dalam bandara. Memang sih dari segi tarif lebih mahal dari taksi online.

Singkat cerita di sepanjang jalan menuju pulang ke rumah, kami diceritakan oleh pengalaman "unik" dari sopir taksi.

Jadi, ceritanya bapak sopir ini sedang duduk sambil menunggu calon penumpang. Tak lama kemudian, bapak sopir tersebut dihampiri oleh seorang pria kira kira berumur 40 tahunan. Kemudian, terjadilah percakapan yang berujung sebuah negosiasi, calon penumpang tersebut ingin pulang ke Solo tapi dia hanya memiliki uang Rp 50.000.

Calon penumpang tersebut sudah ditolak oleh 10 sopir taksi lainnya, karena ongkos dari bandara ke Solo berkisar Rp 150.000.

Alangkah kagetnya calon penumpang tersebut, ketika bapak sopir menyanggupi ongkos dari bandara ke Solo sesuai dengan budget, Rp 50.000. Saya sendiri juga tidak habis pikir karena dari bandara ke Solo sangat jauh, kurang lebih 45 KM bila tarif argo per KM misalnya saja Rp 5.000, berapa duit yang seharusnya dibayar oleh penumpang tersebut? Tentu saja lebih besar dari Rp 50.000.

Selama di perjalanan pun sang sopir taksi menunjukkan kualitas service yang diberikannya seperti membantu menaruh koper yang dibawa oleh penumpang tersebut di dalam bagasi, mengemudi dengan santai dan tanpa ngomel ngomel bahkan memberikan penumpang tersebut satu botol air mineral, dan menawari beberapa biskuit yang dia bawa.

Akhirnya, setelah menempuh 1 jam perjalanan, sampailah taksi di kota Solo. Si penumpang meminta untuk berhenti di sebuah mall.

Sesampainya di mall, si sopir diajak masuk sama penumpang tersebut, betapa herannya pak sopir karena si penumpang tersebut hanya punya uang Rp 50.000. Dengan rasa bingungnya, dia berjalan di belakang penumpang tadi, tetapi sama penumpang tersebut, Pak sopir diminta untuk berjalan di sampingnya. Lalu, langkah kaki mereka berhenti di depan gerai KFC. Si penumpang langsung menuju counter penjualan. Rasa kebingungan si sopir pun semakin menjadi.

Dipanggillah bapak sopir tadi untuk duduk di kursi kosong yang berada di depan penumpang tersebut. Melihat ekspresi si sopir yang nampak kebingungan, si penumpang akhirnya berbicara "bapak pasti bingung dengan apa yang saya lakukan?

"Jadi begini, saya sebenarnya hanya menguji saja apa masih ada orang yang tulus melayani walaupun secara logika dan matematika bisnis tidak masuk akal. Bapak masih mau mengantar penumpang yang memiliki kekurangan uang untuk membayar tarif argo taksi milik bapak. Bahkan saya sendiri sangat surprise dengan apa yang bapak tunjukkan kepada saya tadi di bandara. Bapak masih mau membantu saya untuk memasukkan koper saya yang berat ke dalam bagasi mobil, masih mau memberikan saya air mineral, menawarkan saya biskuit, dan mengemudi dengan santai dan penuh kegembiraan tanpa ngomel pula. Sebagai balasan atas ketulusan bapak dan service yang memuaskan yang saya dapatkan maka terima ini pak semoga bisa sedikit membantu" ujar penumpang tersebut.

Kemudian, penumpang tersebut memberikan sebuah amplop dengan isi lembaran uang tunai. Setelah dibuka ternyata isinya lembaran uang senilai Rp 100.000 berjumlah sepuluh lembar. Secara total bapak sopir tersebut menerima uang Rp 1.250.000 dari penumpang tadi. Penumpang tersebut memilih turun di mall dan meminta bapak sopir untuk kembali ke Jogja.

Si Bapak mengakhiri ceritanya dengan satu helai nafas panjang. Setelah bapak sopir selesai bercerita, saya bertanya "Mengapa bapak sopir tersebut tetap mempertahankan kualitas servisnya, padahal pendapatan yang masuk kantong menjadi menurun?".

Si Bapak hanya menjawab "saya tidak mau mengecewakan penumpang saya, perkara rezeki saya serahkan kepada Allah sang maha kaya yang penting saya tetap bisa melayani penumpang saya dengan sepenuh hati".

Saya sedikit membayangkan seandainya semua unit bisnis yang bergerak di bidang jasa memiliki karyawan seperti si Bapak tadi, pasti tidak ada keluhan dari konsumen seperti konsumen di rumah sakit yang ditelantarkan hingga akhirnya meninggal dunia karena tidak mendapatkan service yang berkualitas seperti beberapa kasus yang sempat heboh di Indonesia beberapa bulan yang lalu.

Cerita ini adalah murni kejadian yang sesungguhnya saya alami seminggu yang lalu. Ternyata memperoleh ilmu baru itu bisa dari mana saja dan dari siapa saja di antaranya:

  • "Terima-Kasih": dibalik menjadi "Kasih-Terima" artinya dengan kita memberikan yang terbaik maka kelak kita akan menerima hasilnya. Ketika kita bekerja, janganlah hanya mengharapkan kenaikan gaji atau promosi, lakukan saja yang terbaik dan niscaya manajemen hotel pun akan menilai kinerja kita.
  • Perasaan asah, asih, dan asuh tetap penting dalam pelayanan bagi para tamunya. Mengasihi tamu selayaknya keluarga sendiri yang perlu kita bantu dengan tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih, mengasah kepekaan kita terhadap sesama dan mengasuh atau menularkan spirit of excellent services kepada generasi penerus. Sehingga, pelayanan menjadi konsisten.

Kedua pelajaran penting itulah yang bisa saya pelajari dari Pak Sopir taksi yang ramah, baik hati, dan suka menolong. Itulah karakter hotelier yang semestinya melekat pada diri kita semua.

Salam Jempol!

By Galih Satria Hutama

Recommended Posts

AJAR in The News