Bahan Pembersih dan Chemical yang Digunakan di Hotel

Bahan Pembersih dan Chemical yang Digunakan di Hotel

AJAR Hospitality

Bahan Pembersih dan Chemical yang Digunakan di Hotel

AJAR.id ─ Hello Ajarian! Agar dapat membersihkan sebuah area dengan maksimal, diperlukan bahan pembersih yang sesuai. Tahukah Kamu bahwa ada banyak sekali bahan pembersih dan chemical yang digunakan untuk membersihkan area hotel. Sebagai Housekeeping, jangan sampai salah memilih chemical untuk digunakan karena akan berisiko! Nah, dalam artikel ini AJAR.id akan mengenalkanmu pada ragam jenis pembersih yang umum digunakan. Apa saja ya? Simak yuk!

  1. Air
    Sebagian besar produk pembersih dikemas dalam bentuk konsentrat sehingga harus diencerkan dengan air sebelum digunakan. Selain sebagai pengencer, air juga penting dalam proses pembersihan, karena berfungsi untuk:
  • Mengendurkan dan melarutkan lumpur serta kotoran dari permukaan
  • Membilas permukaan serta peralatan kebersihan.

Ketahui takaran yang benar bila Kamu harus mengecerkan chemical, karena kalau terlalu encer maka chemical tidak bisa bekerja maksimal.

  1. Sabun
    Secara umum, sabun terbuat dari lemak hewani dan soda api. Sabun bisa menjadi bahan pembersih bagi beberapa jenis permukaan, namun berpotensi meninggalkan jejak residu yang kurang menarik. Bila tidak segera dikeringkan, sisa residu ini akan menempel pada permukaan dan harus dihilangkan dengan deterjen. Maka dari itu, sabun jarang digunakan sebagai bahan utama pembersih.
  2. Polisher
    Polisher dapat berupa pasta, cairan maupun krim. Fungsinya untuk melindungi permukaan dan menciptakan lapisan penahan dari cairan yang bisa membahayakan permukaan tersebut. Polisher berbahan dasar alkohol umunnya digunakan untuk permukaan logam pada jendela atau cermin. Sementara yang terbuat dari minyak digunakan pada permukaan kulit, kayu, linoleum, dan lantai keramik. Hati-hati ya! Karena permukaan yang dibersihkan dengan polisher akan terasa licin.
  3. Pembersih abrasif
    Cairan abrasif tersedia dalam bentuk bubuk, krim atau pasta. Gunanya untuk mengampelas permukaan keramik atau enamel, contohnya pada kloset atau bathtub. Cairan abrasif tidak bisa digunakan pada permukaan yang mudah tergores. Cairan ini pun sulit untuk dibilas, jadi proses pembersihan harus dilakukan cepat saat itu juga.
  4. Deterjen
    Deterjen terbuat dari bahan kimia dan kekuatannya dalam membersihkan kotoran berbeda-beda; penting untuk mengikuti arahan yang benar untuk melarutkannya. Deterjen memiliki skala pH yang berbeda-beda dan level pH itulah yang menjadi acuan tentang permukaan apakah yang harus dibersihkan dengan deterjen tersebut.
  • Level pH 1 sampai 6 (acidicdetergents) bisa dipakai untuk permukaan keramik.
  • Level pH 7 atau netral baik digunakan untuk membersihkan secara umum.
  • Level pH 8 sampai 14 (alkaline detergents) hanya bisa digunakan untuk area tertentu karena bersifat korosif dan bisa merusak permukaan.

Deterjen beralkalin tinggi harus digunakan langsung pada area yang ingin dibersihkan dan segera dibilas agar tidak ada jejak residu yang tertinggal. Ingatlah bahwa deterjen beralkalin tinggi bisa berbahaya bagi kulit. Pergunakanlah dengan bijak dan jangan sampai ada kebocoran. Kenakan pakaian pelindung saat akan bersentuhan dengan deterjen beralkalin tinggi.

  1. Chemical khusus
    Saat ini sudah bermunculan berbagai chemical khusus yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan noda tertentu atau untuk membersihkan permukaan secara spesifik. Produk chemical yang umum ditemukan di pasaran adalah untuk membersihkan lantai (keramik, linoleum, karpet, kayu), kaca jendela, cermin, stainless steel, bahan kulit, aluminium, untuk laundry, hingga untuk area atau objek tertentu seperti toilet, cerobong asap, kendaraan, dan masih banyak lagi
  2. Solvents
    Solvent digunakan untuk melarutkan minyak dan noda berat. Penting diingat kalau tidak semua permukaan bisa dibersihkan dengan solvent. Contohnya, solvent tidak sesuai bila digunakan untuk membersihkan noda minyak yang sudah merembes pada sofa. Namun, permukaan metal/logam bisa dibersihkan dengan solvent karena tidak akan rusak. Jangan sampai solvent tumpah atau bocor karena berbahaya bila terkena kulit. Permukaan yang telah dibersihkan dengan solvent harus dibilas hingga benar-benar bersih agar tidak meninggalkan sisa residu berbahaya.
  3. Desinfektan
    Desinfektan adalah bahan pembersih yang mampu memusnahkan mikroorganisme pembawa penyakit. Desinfektan harus diencerkan dulu sesuai instruksi pabrik: namun kalau terlalu encer, desinfektan menjadi tidak efektif membunuh kuman. Jangan gunakan desinfektan pada area kitchen atau area dekat makanan karena baunya tajam, gunakanlah hanya pada toilet, kamar mandi dan ruang ganti.
  4. Penghilangbau (deodorisers)
    Deodoriser digunakan untuk menyamarkan atau menghilangkan bau tak sedap. Umumnya dikemas dalam bentuk aerosol dan harus disemprotkan dengan bijak agar wanginya tidak berlebih atau justru mendominasi. Ada juga deodoriser yang disebut urinal blocks, jenis ini dipakai untuk menyamarkan bau pada toilet pria. Ikuti dosis yang dianjurkan saat penggunaannya, ya Ajarian, jangan langsung melontarkannya begitu saja ke dalam urinal karena harganya cukup mahal dan bisa meninggalkan bekas. Ingat ya, Kamu tetap harus membersihkan urinal walau sudah menggunakan urinal blocks.

Wah, ternyata cukup banyak bukan jenis pembersih yang perlu kamu ketahui. Masing-masing pembersih memiliki kegunaannya tersendiri, maka jangan ragu untuk bertanya pada Supervisor manakah yang paling sesuai dengan pekerjaanmu.

Salam Jempol!

By Inas Nadiya

Recommended Posts

AJAR in The News