Cara Mengukur Keberhasilan dari sebuah Training di Hotel

Cara Mengukur Keberhasilan dari sebuah Training di Hotel

Editor Ajar

Cara Mengukur Keberhasilan dari sebuah Training di Hotel

AJAR.id – Hello Ajarian! Sebagai seorang trainer, baik meta trainer, master trainer, group trainer maupun departemental trainer, pernahkah Kamu mengalami situasi di mana Kamu mendapatkan pertanyaan dari para stakeholder seperti di bawah ini?

  • Budget training plan yang Kamu ajukan terlalu besar sekali, apa ukuran keberhasilannya? 
  • Untuk apa Kamu training lama-lama? Bisa dibikin lebih simpel? 
  • Kenapa Kamu mengajarkan topik XYZ? Apa hasil akhirnya? 

Nah, itulah tiga pertanyaan pamungkas para stakeholder yang "kritis" dan "sangat bagus" ketika seorang trainer mempresentasikan business plan tahunannya.

Jika pertanyaan itu muncul, bagaimana kita akan menjawabnya? 

Seperti kita ketahui bahwa "budaya belajar" sangat penting untuk menunjang tujuan bisnis. Oleh karena itu, banyak sekali literatur yang mengatakan bahwa "training" adalah "mitra bisnis" yang sangat strategis untuk meraih kesuksesan hotel karena kunci menjalankan roda operasional hotel terletak pada level kompetensi para karyawannya. Sebagus-bagusnya sebuah brand dan system namun jika tidak pernah ada training maka hanya akan menjadi kumpulan kertas yang tak berguna.

Lalu, bagaimana kita memastikan bahwa semua kegiatan pelatihan yang kita lakukan dapat terukur dan jelas arah tujuannya?

Apakah dengan meraih "7 training hours per employee per month" maka revenue akan naik, expenses kita akan turun, dan profit hotel akan naik? 

Jika semua proses pelatihan dilakukan dengan benar, maka jawabannya adalah “Iya”, baik yang secara langsung berdampak maupun yang tidak langsung berdampak terhadap profitabilitas hotel.

Walaupun jumlah jam belajarnya tinggi namun jika proses belajar mengajarnya salah, maka dapat mudah sekali untuk dikenali hasil akhirnya. Misalnya hotelnya kotor, makanan enggak enak, dan masalah-masalah operasional lainnyayang berdampak pada nilai-nilai bisnis lainnya.

Jika begitu, maka hanya buang-buang waktu dan uang saja, lalu untuk apa ada training? (kata sang stakeholder dalam sebuah hotel-hotelan).

Keberhasilan training tergantung dari tujuannya kenapa Kamu membuat sesi pelatihan, yaitu dengan cara melihat terlebih dahulu sasaran bisnis lalu menganalisa kebutuhan pelatihannya. Cara mengukurnya juga simpel, yakni terdiri dari dua langkah di bawah:

Step 1 Bandingkan antara Learning Outcome VS Penguasaan Competency 

Learning outomes merupakan kumpulan competency yang akan Kamu ajarkan melalui sesi pelatihanMisalnya untuk topik training "Cara Menggoreng Tempe", maka contoh learning outcome-nya adalah sebagai berikut:

  • Setelah sesi pelatihan selesai maka peserta akan mampu untuk mengenali tempe yang fresh, menggoreng tempe dengan metode deep frying, dan menyajikan tempe dalam piring dengan standard garnish yang telah ditentukan. 
  • Untuk memastikan bahwa mereka telah menguasai kompetensi yang telah diajarkan, Kamu dapat membandingkannya dengan hasil akhir, yaitu dengan cara melakukan uji kompetensi. Misalnya dengan cara teknik wawancara, quiz, tes tertulis dan meminta peserta mempraktekkan skill set yang telah diajarkan. Buat score dari masing-masing sesi/topik yang telah diajarkan. Lalu, bandingkan antara ekspektasimu sebagai trainer dengan hasil akhirnya atas penguasaan kompetensi.
  • Uji kompetensi yang dimaksud adalah dilakukan secara internal
  • Catatan pentingHindari mengirimkan karyawanmu untuk uji kompetensi ke Lembaga Sertifikasi Profesi sebelum dilatih ya? Ini pesan dari Bapak Ir Sumarna, ketua BNSP, Video: 3 Pillar Pengembangan SDM Pariwisata Indonesia

Step 2 Bandingkan antara target Operational Outcome VS Hasil Akhir 

Jika kita melihat judul training"Cara Menggoreng Tempe", kira-kira ada dampaknya ke operasional kerja apa tidak? kira-kira apa saja dampaknya? Jika gorengan tempenya krispi, gurih, renyah dan laku keras kira-kira apa dampaknya? Untuk mengetahui dan mengukur dampaknya, maka Kamu dapat melihat dari beberapa perspektif seperti contoh di bawah ini:

  • Pertama adalah mengukur dari sudut pandang  "Operasional Efficiency". Misalnya, dalam training topik "Cara Menggoreng Tempe" tersebut, kira-kira: berapa banyak minyak goreng, gas dan waste yang bisa kita hemat bila karyawan kita terampil? Nah, untuk mengukur keberhasilan dari pelatihan tersebut, Kamu bisa mengukurnya dari seberapa besar "production cost" yang dapat Kamu kurangi setelah karyawan terampil untuk menggoreng tempe. Jadi, Kamu bisa membuat analisa before and after dari topik yang telah diajarkan yang dilihat dari aspek cost perspective. Ribet ya? Ya iya lah makanya ada profesi di hotel dengan job title "Manager". Itulah kerjaan harian mereka, yaitu "menganalisa". 
  • Kedua adalah dengan mengukur dari aspek "Customer Satisfaction" dengan cara melakukan survei kepada tamu-tamu yang telah menyantap hidangan "Tempe Goreng Kering". Buatlah dimensi ukurannya, misalnya: Kualitas Rasa, Kecepatan Penyajian, atau Presentasi Hidangan dengan menggunakan "Likert Scale". Tentukan terlebih dahulu target kamu dan bandingkan dengan hasil survei yang telah terkumpul.
  • Ketiga mengukur dari aspek "Financial" yaitu dengan cara menentukan target penjualan "gorengan tempe krispi" lalu bandingkan dengan aktual pencapaian dalam periode tertentu.

Nah, dengan semua ukuran-ukuran tersebut, maka kamu akan sangat mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para stakeholder yang terbilang pertanyaannya simpel namun tidak mudah untuk dijawab jika kita tidak "menyiapkan jawaban" sebelumnya. 

Jadi kesimpulannya:

  • Sasaran utama mengadakan pelatihan seharusnya fokus terhadap proses belajar mengajar yang benar sehingga proses transfer kompetensi dapat maksimal. Jumlah pencapaian "Training Hours" merupakan indikasi penting bahwa budaya belajar telah berjalan, namun jangan gunakan sebagai patokan utama dalam menilai keberhasilan pelatihan.
  • Pelatihan adalah investasi jangka panjang baik dalam bentuk investasi uang dan waktu di mana Kamu dapat mengukur keberhasilan pelatihan dari beberapa perspektif. Dampaknya bisa secara langsung berpengaruh kepada sudut pandang Efisiensi Operasional Kerja, Customer Satisfaction, Happy Employee maupun berdampak langsung kepada perspektif financial.

Sahabat Ajarian, sudahkah Kamu mengukur hasil pelatihanmu? Apa hasilnya? Jangan jawab dengan jumlah "training hours" ya, please...... :)

Salam Jempol!

By Ikin Solikin 

Source: Combination between ASEAN Standard Competency and Balance Score Card Concept.

Training is a business partner, untuk mendukung pemerintah dalam mengakselerasi pertumbuhan target kunjungan wisata, maka AJAR.id membuat komunitas trainer gratis untuk semua level trainer dari mulai Meta Trainer, Master Trainer, Group Trainer dan Skill/Departemental Trainer dari semua divisi di Industri hospitality. Ayuk gabung dan belajar bersama dari A sampai Z tentang dunia pelatihan yang akan dimulai di awal tahun 2019. Pelajari "Tentang Komunitas Trainer" 

Related Article

AJAR in The News