8 Faktor yang Menentukan Layanan Pelanggan di Restoran

8 Faktor yang Menentukan Layanan Pelanggan di Restoran

AJAR Hospitality

8 Faktor yang Menentukan Layanan Pelanggan di Restoran

AJAR.id – Hello Ajarian! Jenis bantuan yang diberikan pada pelanggan di setiap restoran tentunya berbeda-beda. Bantuan yang diberikan bergantung pada menu makanan yang tersedia. Biasanya ada menu makanan yang belum memiliki deskripsi. Semakin sederhana deskripsinya, semakin besar pula bantuan yang diperlukan untuk menjelaskannya.

Beberapa restoran memilih untuk memberikan deskripsi yang sederhana atau tidak sama sekali karena ingin membangun relasi yang baik antara pelanggan dengan staf.

Lalu, faktor apa saja yang mempengaruhi pemberian bantuan pada pelanggan di restoran?

  1. Cara memasak
    Kebanyakan orang yang datang ke restoran dengan tema tertentu pasti akan banyak bertanya tentang hidangan yang akan mereka pesan.

Restoran pun banyak yang menawarkan menu spesial atau pilihan makanan yang belum familiar dengan menu, cara memasak, rasa dan lain sebagainya.

  1. Asal muasal hidangan yang ditawarkan
    Jika hidangan yang ditawarkan berasal dari negara lain seperti hidangan yang dipanggang, steak, schnitzel atau pasta, maka Kamu harus menjelaskannya secara detail pada pelanggan yang belum familiar. Jika yang akan menyantapnya adalah pelanggan yang berasal dari luar negeri, mungkin Kamu hanya akan menjelaskannya sedikit saja karena mereka sudah cukup familiar dengan hidangan tersebut.

Meski makanan yang ditawarkan sudah cukup terkenal, penjelasan yang mendetail tetap harus ada. Contohnya, Kamu bisa saja beranggapan bahwa seluruh pelanggan sudah mengenal lasagna dan fettucine, namun mereka mungkin belum mengetahui perbedaan antara penne, rigatoni atau farfalle.

  1. Menu yang ditawarkan
    Semakin banyak menu yang ditawarkan, semakin banyak pula penjelasan yang dibutuhkan. Tidak ada peraturan yang mengatur jumlah menu yang harus ditawarkan atau porsi makanan yang harus dikonsumsi oleh pelanggan.

Gaya ‘3 course meal’ yang tradisional hingga saat ini masih menjadi favorit pelanggan untuk makan malam. Sedangkan makan siang yang paling populer adalah single atau two-course.

  1. Usia pelanggan
    Pelanggan anak-anak biasanya tertarik dengan deskripsi yang atraktif entah itu secara verbal atau tertulis. Biasanya menu untuk anak-anak diberi warna yang menarik seperti yang ada pada restoran cepat saji.

Pelanggan dewasa yang sudah terbiasa makan di restoran biasanya tidak membutuhkan banyak saran, namun mereka mungkin akan bertanya tentang sesuatu yang spesial atau asal muasal produk.

  1. Latar belakang kebudayaan pelanggan
    Jika pelanggan berasal dari luar negeri, biasanya membutuhkan penjelasan yang lebih banyak, khususnya ketika mereka ingin merasakan pengalaman di daerah setempat.

Di restoran etnik, pertanyaan dari pelanggan mungkin akan berbeda dari pelanggan yang tidak mengincar pengalaman tradisional.

Pelanggan yang mengincar pengalaman tradisional biasanya lebih suka bertanya tentang cara memasak, bahan-bahan yang digunakan, durasi memasak, bumbu, dan lain sebagainya.

  1. Asal kelompok pelanggan yang datang
    Elemen ini bisa berbeda untuk setiap individu. Klien bisnis yang makan berkelompok biasanya akan menanyakan banyak pertanyaan hanya untuk mengesankan koleganya, sementara yang lainnya menginginkan makanan yang disajikan secara cepat.

Biasanya pelanggan yang makan secara berkelompok sudah menyiapkan menu makanan yang akan mereka makan, sementara yang lainnya hanya ingin ‘pamer’ dengan menanyakan pertanyaan sebelum memesan sesuatu.

  1. Seberapa cepat pelanggan ingin makan
    Pelanggan yang ingin segera makan biasanya tidak akan menanyakan banyak pertanyaan selain “Menu apa yang bisa disajikan dengan cepat?”. Untuk memuaskan pelanggan ini, Kamu hanya perlu menyajikan makanan yang mereka pesan dengan cepat.

Seluruh faktor di atas dapat berdampak baik untuk bantuan yang akan Kamu berikan pada pelanggan. Ketika berhubungan dengan pelanggan, pastikan Kamu menerapkan konsep ‘horses for courses’ yang menyesuaikan dengan masing-masing pelanggan ketimbang menerapkan konsep ‘one size fits all’.

Saat mendampingi pelanggan, pastikan Kamu memberikan informasi secara rinci dan jangan memaksakan kehendak dengan pendapatmu. Intinya, Kamu bisa saja memberikan saran bagi pelanggan namun jangan memaksakan, membujuk atau membalikkan fakta.

Salam Jempol!

By Bunga Mardiriana

Recommended Posts

AJAR in The News