AJAR.id – Hello Ajarian! Sahabat saya pernah mengatakan “Ade, tahu tidak, adik saya yang bisa dikategorikan mampu, tidak suka membelikan buku untuk anak-anaknya, karena menurutnya mahal. Setengah hari, semua buku yang dibeli sudah selesai dibaca oleh anak-anaknya. Jadi lebih baik bagi adik saya untuk membawa anak-anaknya ke toko buku dan membaca di sana!. Ia sangat prihatin terhadap kebiasaan membaca di negeri ini bercerita dengan bersemangat kepada saya.

Bagaimana mungkin anak-anak akan mencintai buku kalau mereka tidak dibiarkan memiliki buku mereka sendiri. Seseorang akan bisa mencintai buku-bukunya kalau dia bisa menyentuh, meraba, dan mendekap bukunya.”

Menarik, ya?! Saya tidak pernah berpikir sejauh itu, kalau buku-buku saya yang menumpuk di gudang dan di kamar saya, adalah merupakan satu cara untuk saya mencintai buku dan akhirnya memiliki kebiasaan membaca. Kebiasaan yang boleh dikatakan langka di negeri yang pemerintahnya mengatakan bahwa negeri ini adalah negeri berkembang, bukan yang sedang berkembang.

Membaca atau literasi secara harfiah, menurut tulisan Agus M Irkham yang diposkan di blog indonesiabuku.com pada 1 Februari 2010, bermakna melek huruf (literate).

Menurut Ignas Kleden dalam esai berjudul Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Politik tentang Kebudayaan yang kemudian dihimpun dalam buku suntingan Alfon Taryadi “Buku dalam Indonesia Baru” (1999) ada tida kategori melek huruf:

Pertama, melek huruf teknis (performative) yaitu mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca tetapi secara fungsional dan secara budaya namun sebetulnya buta-huruf. Penyebabnya bisa karena jarangnya bahan bacaan, atau sifat pekerjaan mereka yang menyebabkan tidak punya waktu untuk mempraktekkan kemampuan membaca yang dimiliki. Jadi hanya sekadar melek huruf belaka. Apa yang dilakukan guru-guru kita dulu di sekolah dasar adalah membuat kita mencapai tahap ini.

Kedua, melek huruf fungsional (functional) yaitu mereka yang tergolong membaca dan menulis sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan. Akan tetapi, sangat kurang sekali menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan untuk berkomunikasi dan berekspresi. Jadi, jika Kamu memiliki kebiasaan membaca buku-buku yang berhubungan dengan pekerjaan Kamu semata, Kamu dikatakan secara budaya masih buta huruf!

Ketiga, melek huruf budaya (informational-epistic) yaitu orang-orang yang di samping mempunyai kesanggupan baca-tulis secara teknis dan fungsional, ia menjadikan pula baca-tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Pada kategori ini, Kamu sudah memiliki kebiasaan untuk membaca dan menulis yang sudah di luar profesi Kamu dan memakai berbagai jenis media.

Coba tanyakan pada diri Kamu sendiri: Apakah saya telah menulis surat pribadi—surat pembaca ke media, surat untuk teman, keluarga, dan kerabat dekat, atau menulis diary secara rutin?

Apakah setiap bulannya saya telah menganggarkan sekian persen dari gaji untuk membeli buku? Apakah saya sudah menjadikan baca-tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan?

Jika jawaban atas serangkaian pertanyaan tersebut adalah “tidak” maka sejatinya Kamu masih tergolong buta (huruf) secara budaya.

Ulasan di atas dan cerita sahabat baru saya, membuat saya mengerti mengapa saya menemui gegar pengetahuan di antara para staf saat ini. Pertanyaan sederhana “Bromo ada di provinsi mana?” pun, gagal dijawab dengan benar. Karena kebanyakan dari kita masih berada pada kategori melek huruf fungsional.

Kalau dikatakan bangsa ini tidak mampu membeli buku karena tingkat kemiskinan yang tinggi, saya tidak setuju. Ada banyak sekali gerakan dari pemerintah, pemerhati anak-anak, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga swasta yang berusaha membangun budaya membaca, menyediakan akses ke buku-buku murah, membuka perpustakaan kecil, atau membuka pusat-pusat belajar.

Kebiasaan membaca diajarkan oleh orang tua dan guru kita, tetapi kemudian semuanya kembali ke diri kita masing-masing. Jangan berpikir tentang mencerdaskan bangsa, tetapi coba cerdaskan diri kita sendiri dulu.

Karena membaca saya mengerti berbagai budaya di Indonesia. Sebelum pergi ke destinasi baru, saya selalu melakukan riset tentang tujuan wisata tersebut dengan membaca banyak artikel terkait. Saya bisa mengatakan saya adalah penggemar Jeffrey Archer, sesudah saya membaca buku-bukunya. Saya kagum dan hormat terhadap M Quraish Shihab sesudah saya membaca buku-bukunya. Saya paham berbagai trend di dunia karyawan, karena saya membaca majalah-majalah yang berhubungan dengan human resources.

Jadi, tidak ada cara lain untuk membuka wawasan kita dan mencerdaskan diri selain dengan membaca.

Sudahkah Kamu membaca hari ini?

Salam Jempol!

By Ade Noerwenda